
Mengenal sejarah Machu Picchu di Peru, kota kuno peninggalan Peradaban Inca yang ditemukan kembali pada abad ke-20. Simak asal-usul, fungsi, misteri, hingga fakta menariknya.
Machu Picchu: Kota Hilang Peradaban Inca yang Masih Menyimpan Banyak Misteri
Pendahuluan
Di antara pegunungan tinggi Pegunungan Andes, Peru, berdiri sebuah kota batu yang selama berabad-abad tersembunyi dari dunia luar. Kota itu adalah Machu Picchu, salah satu peninggalan paling menakjubkan dari Peradaban Inca sekaligus salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia.
Dikelilingi lembah yang curam, kabut pegunungan, dan lanskap alam yang memukau, Machu Picchu sering dijuluki sebagai Kota Hilang Inca. Julukan tersebut muncul karena keberadaannya sempat terlupakan selama ratusan tahun hingga ditemukan kembali pada awal abad ke-20.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Machu Picchu merupakan saksi bisu kejayaan salah satu peradaban terbesar di Amerika Selatan. Arsitekturnya yang presisi, sistem pertanian yang canggih, serta lokasinya yang strategis menunjukkan tingginya kemampuan teknik masyarakat Inca pada masanya.
Meski telah dipelajari selama puluhan tahun, Machu Picchu masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Latar Belakang Peradaban Inca
Sebelum memahami Machu Picchu, penting untuk mengenal Peradaban Inca.
Kekaisaran Inca berkembang pesat pada abad ke-15 dan menjadi kekuatan terbesar di Amerika Selatan sebelum kedatangan bangsa Spanyol. Wilayah kekuasaannya membentang dari bagian selatan Kolombia hingga Chile dan Argentina.
Pusat pemerintahan Inca berada di kota Cusco yang menjadi pusat politik, ekonomi, dan keagamaan.
Meskipun tidak mengenal roda sebagai alat transportasi maupun sistem tulisan seperti peradaban lain, masyarakat Inca mampu membangun jaringan jalan sepanjang puluhan ribu kilometer, sistem irigasi yang rumit, serta bangunan batu yang bertahan hingga sekarang.
Siapa yang Membangun Machu Picchu?
Sebagian besar sejarawan meyakini bahwa Machu Picchu dibangun pada pertengahan abad ke-15 atas perintah Kaisar Inca Pachacuti.
Pachacuti dikenal sebagai penguasa yang membawa Kekaisaran Inca mencapai puncak kejayaannya. Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan meluas dengan cepat dan berbagai proyek pembangunan besar dilaksanakan.
Machu Picchu diperkirakan dibangun sebagai kompleks kerajaan yang memiliki fungsi administratif, keagamaan, sekaligus tempat peristirahatan keluarga kerajaan.
Lokasi yang Sulit Dijangkau
Salah satu hal yang membuat Machu Picchu begitu istimewa adalah lokasinya.
Kota ini berdiri pada ketinggian sekitar 2.430 meter di atas permukaan laut, di antara dua puncak pegunungan yang curam.
Lokasi tersebut memberikan berbagai keuntungan.
Di antaranya:
- Mudah dipertahankan dari serangan musuh.
- Memiliki sumber air pegunungan yang melimpah.
- Dekat dengan lahan pertanian bertingkat.
- Terlindung oleh bentang alam yang sulit diakses.
Pemilihan lokasi menunjukkan bahwa masyarakat Inca memiliki pemahaman mendalam mengenai geografi dan teknik pembangunan.
Kehebatan Arsitektur Machu Picchu
Salah satu alasan Machu Picchu begitu dikagumi adalah kualitas arsitekturnya.
Bangunan-bangunan di kota ini dibuat menggunakan batu granit yang dipotong dengan sangat presisi.
Menariknya, sebagian besar batu disusun tanpa menggunakan semen atau perekat.
Teknik ini dikenal sebagai ashlar masonry, yaitu penyusunan batu hingga saling mengunci dengan sangat rapat.
Berkat teknik tersebut, bangunan Machu Picchu mampu bertahan menghadapi gempa bumi yang sering terjadi di kawasan Andes.
Tata Kota yang Terencana
Machu Picchu bukan sekadar kumpulan bangunan.
Kota ini dirancang dengan pembagian fungsi yang jelas.
Kompleks tersebut terdiri atas:
- Area permukiman.
- Kuil-kuil keagamaan.
- Istana.
- Gudang penyimpanan.
- Teras pertanian.
- Sistem saluran air.
Seluruh bagian kota dihubungkan oleh jalan-jalan batu serta tangga yang mengikuti kontur pegunungan.
Perencanaan yang matang menunjukkan bahwa masyarakat Inca telah memiliki kemampuan tata kota yang sangat maju.
Sistem Pertanian yang Inovatif
Salah satu tantangan terbesar membangun kota di lereng gunung adalah menyediakan lahan pertanian.
Untuk mengatasinya, masyarakat Inca menciptakan sistem terasering yang memanfaatkan lereng pegunungan.
Selain memperluas lahan tanam, teras-teras tersebut juga berfungsi:
- Mengurangi risiko longsor.
- Mengendalikan aliran air hujan.
- Menjaga kesuburan tanah.
- Mengurangi erosi.
Sistem tersebut masih dianggap sebagai salah satu contoh teknik pertanian pegunungan terbaik dalam sejarah.
Penemuan Kembali Machu Picchu
Setelah runtuhnya Kekaisaran Inca akibat penaklukan Spanyol pada abad ke-16, Machu Picchu perlahan ditinggalkan.
Selama ratusan tahun, kota ini tertutup vegetasi lebat dan hampir tidak dikenal oleh dunia luar.
Pada tahun 1911, sejarawan Amerika Hiram Bingham memperkenalkan Machu Picchu kepada dunia setelah melakukan ekspedisi ke wilayah tersebut.
Walaupun masyarakat lokal sebenarnya telah lama mengetahui keberadaan situs tersebut, publikasi Bingham membuat Machu Picchu menjadi perhatian internasional dan membuka jalan bagi penelitian arkeologi secara lebih luas.
Mengapa Machu Picchu Tidak Dihancurkan Spanyol?
Berbeda dengan banyak kota Inca lainnya, Machu Picchu tidak mengalami penghancuran besar-besaran oleh pasukan Spanyol.
Para sejarawan menduga hal tersebut disebabkan oleh lokasinya yang terpencil sehingga tidak pernah ditemukan oleh para penakluk pada masa kolonial.
Akibatnya, sebagian besar bangunan tetap terpelihara hingga ditemukan kembali berabad-abad kemudian.