
Petirtaan Belahan di Pasuruan menyimpan jejak spiritual Jawa Kuno, arca Dewi Sri dan Laksmi, gapura kuno, serta tantangan pelestarian dari risiko gerakan tanah.
Petirtaan Belahan: Jejak Air Suci dan Lanskap Spiritual di Lereng Gunung Penanggungan
Lanskap Spiritual dan Arsitektur Air di Kaki Gunung Pawitra
Di hamparan lereng vulkanik Gunung Penanggungan—yang dalam kosmologi kuna dikenal sebagai Gunung Pawitra—yang secara administratif terletak di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, berdiri sebuah mahakarya peninggalan peradaban Jawa Kuna yang sangat memukau. Situs ini populer di kalangan masyarakat luas dan dunia akademis sebagai Petirtaan Belahan, sementara warga lokal akrab menyapanya dengan sebutan Sumber Tetek. Kompleks petirtaan ini jauh melampaui fungsi utilitas sekadar sebuah kolam pemandian kuno. Berdasarkan hasil tinjauan arkeologis, situs ini merefleksikan jalinan hubungan yang sangat erat antara elemen sumber daya air, sistem keagamaan, dan penataan lanskap spiritual pada masa Jawa Kuna. Kompleks ini memuat struktur dinding bata merah yang kokoh, pahatan arca estetis, relief dinding, hingga struktur gapura yang menandakan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan ruang sakral dengan fungsi khusus. Di sisi lain, kajian ilmiah mutakhir yang diterbitkan dalam Berkala Arkeologi edisi Mei 2026 turut menyoroti dimensi krusial lain: kerentanan situs terhadap ancaman bencana ekologis berupa gerakan tanah dengan tingkat risiko rendah hingga sedang. Kondisi ganda ini menjadikan Petirtaan Belahan sebagai objek studi yang sangat menarik, dipahami secara simultan sebagai arsip sejarah yang agung sekaligus warisan budaya rapuh yang menuntut perlindungan komprehensif.
Morfologi Situs dan Hubungan Erat dengan Lingkungan Pegunungan
Secara arsitektural, struktur fisik Petirtaan Belahan terdiri atas dinding kolam utama yang membentuk konfigurasi huruf L, dipadukan dengan kolam berbentuk persegi panjang berdimensi sekitar 4,5 x 6 meter. Material pembangun situs didominasi oleh bata merah kuno, sementara pada bagian-bagian tertentu menggunakan balok batu andesit pilihan. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat bahwa posisi geografis bangunan ini bersentuhan secara langsung dengan topografi lereng terjal Gunung Penanggungan. Karakteristik topografi ini menciptakan relasi ekologis yang sangat vital: aliran air alami dari ekosistem sekitar mengalir deras mengisi kolam petirtaan, sementara dinding tebing di bagian belakang turut membebani dan memengaruhi kestabilan fisik bangunan secara keseluruhan.
Arca Dewi Sri, Dewi Laksmi, dan Simbolisme Kesuburan Air
Daya tarik visual sekaligus ikon utama dari Petirtaan Belahan adalah keberadaan sepasang arca perempuan yang diletakkan secara anggun di dalam relung dinding petirtaan. Kedua arca agung ini diidentifikasi oleh para arkeolog sebagai representasi Dewi Sri dan Dewi Laksmi, dewi kesuburan dan kemakmuran dalam tradisi Hindu. Salah satu keunikan teknis yang memicu takjub adalah adanya saluran air internal pada arca tersebut, yang dirancang sedemikian rupa sehingga air bersih memancar keluar melalui bagian dada arca sebelum akhirnya jatuh ke dalam kolam di bawahnya. Fenomena hidrolik kuno inilah yang secara historis melahirkan sebutan populer Sumber Tetek.
Kendati demikian, keberadaan arca-arca tersebut tidak boleh direduksi sebatas keunikan estetika visual semata. Dalam kerangka spiritualitas petirtaan kuno, air memegang kedudukan sentral sebagai medium pembersihan jiwa, simbol amerta (kehidupan kekal), dan manifestasi kesuburan agraris. Selain itu, temuan relief tokoh laki-laki dengan atribut kebesaran tertentu di sekitar relung arca memperkaya khazanah data bagi para sejarawan untuk membaca konsep kosmologi keagamaan dan tingkat kepiawaian seni pahat relief pada masa pembuatan petirtaan tersebut.
Misteri Kronologi dan Hubungan dengan Raja Airlangga
Hingga saat ini, pertanyaan mendasar mengenai kapan persisnya Petirtaan Belahan dibangun dan siapa tokoh penguasa di baliknya masih menyisakan perdebatan akademis yang terbuka. Kendala utama dalam penanggalan mutlak adalah ketiadaan inskripsi angka tahun (sangkalan) yang secara eksplisit mencatat tahun pendirian situs. Oleh karena itu, para peneliti harus merekonstruksi kronologi situs melalui pendekatan multidimensional, mulai dari analisis gaya arsitektur bangunan, karakteristik seni arca, perbandingan dengan prasasti sezaman di kawasan sekitar, hingga konteks sosio-politikus Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.
Dalam historiografi tradisional, Petirtaan Belahan sering kali diasosiasikan secara erat dengan masa pemerintahan Prabu Airlangga. Sebagian interpretasi lama bahkan mengaitkan arca Wisnu mengendarai Garuda yang pernah ditemukan di situs ini sebagai bentuk perwujudan atau pendewaan (deification) dari Raja Airlangga sendiri. Namun, kajian kritis modern menunjukkan bahwa korelasi langsung antara arca tersebut dan fungsi asli Petirtaan Belahan masih menyisakan ruang tafsir yang beragam. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat adanya berbagai pandangan alternatif mengenai asal-usul artefak dan fungsi spesifik kompleks tersebut, sebuah dinamika keilmuan yang membuktikan bahwa arkeologi senantiasa terbuka terhadap pembaharuan analisis data.
Prasasti Cunggrang dan Jaringan Lanskap Sakral Gunung Penanggungan
Untuk memahami konteks makro Petirtaan Belahan, para sejarawan merujuk pada data tekstual dari Prasasti Cunggrang. Prasasti penting ini diterbitkan pada masa pemerintahan Raja Mpu Sindok dan memuat catatan mengenai sejumlah bangunan suci keagamaan yang berlokasi di kawasan suci Gunung Pawitra (Penanggungan). Berdasarkan kajian Balai Pelestarian Kebudayaan, salah satu fasilitas suci yang termaktub dalam prasasti tersebut—yakni Sang Hyang Tirta Pancuran—diidentifikasikan oleh sejumlah pakar sebagai entitas yang merujuk pada Petirtaan Belahan.
Identifikasi ini menegaskan bahwa Petirtaan Belahan tidak berdiri dalam isolasi geografis, melainkan merupakan bagian integral dari lanskap budaya Gunung Penanggungan secara keseluruhan. Gunung Penanggungan di masa lampau bukanlah sekadar bentang alam vulkanik biasa; sebaran ratusan situs arkeologi di lereng hingga puncaknya membuktikan bahwa kawasan ini difungsikan sebagai ruang suci pertapaan (mandala), pusat pemujaan, dan ziarah spiritual. Petirtaan Belahan bertindak sebagai salah satu simpul penting dalam jaringan ruang sakral yang membentang luas di lereng gunung tersebut.
Kompleksitas Spasial: Kehadiran Gapura Lanang dan Gapura Wadon
Kompleksitas tata ruang Petirtaan Belahan semakin nyata dengan ditemukannya struktur arsitektural pendukung di luar area kolam utama. Penelitian terbaru mencatat keberadaan dua bangunan gapura kuno yang terletak sekitar 600 meter dari pusat petirtaan, yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Gapura Lanang dan Gapura Wadon, disertai sebaran struktur bata kuno di sekitarnya.
Dalam tradisi arsitektur sakral Jawa Kuna, gapura memegang fungsi esensial sebagai pintu gerbang pembatas atau titik transisi spasial. Kehadiran gerbang di kompleks ini menandai peralihan tingkatan kesakralan ruang—dari area umum menuju zona yang lebih disucikan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa studi komprehensif terhadap Petirtaan Belahan tidak boleh hanya berfokus pada kolam dan arcanya saja, melainkan harus mencakup jaringan tata ruang yang lebih luas meliputi struktur gerbang, relief lereng, hingga jalur perlintasan peziarah kuno.
Hidrologi Kompleks: Lebih dari Sekadar Aliran Air Arca
Meskipun perhatian orang kerap terpaku pada mekanisme air yang keluar dari arca Dewi Laksmi, tinjauan arkeologi dan hidrologi memperlihatkan sistem pasokan air yang jauh lebih kompleks. Petirtaan ini dirancang sebagai rekayasa lingkungan yang memanfaatkan mata air alami pegunungan secara optimal. Riset terbaru mencatat bahwa selain aliran air utama dari arca, terdapat fenomena rembesan air bawah tanah yang keluar secara konstan dari dinding tebing belakang dengan debit yang bahkan jauh lebih besar.
Pada musim atau kondisi tertentu, volume rembesan ini dikelola dan diarahkan menuju kolam menggunakan sistem saluran pipa sederhana. Fakta ini membuktikan bahwa keberlanjutan air di Petirtaan Belahan ditopang oleh keseimbangan sistem hidrologi alami kawasan vulkanik, di mana stabilitas ekosistem hutan di atasnya memegang peranan mutlak bagi eksistensi situs.
Ancaman Bencana Geologis: Kerentanan Gerakan Tanah
Di balik pesona sejarah dan arsitekturnya, Petirtaan Belahan kini menghadapi ancaman nyata dari aspek geologis lingkungan. Kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Berkala Arkeologi edisi Mei 2026 mengangkat isu krusial mengenai risiko gerakan tanah (longsor) di kawasan situs. Berdasarkan pemetaan spasial dan analisis lapangan, kawasan Petirtaan Belahan dikategorikan memiliki tingkat kerentanan bahaya gerakan tanah berkategori rendah hingga sedang pada beberapa titik kritis.
Faktor pemicu utama kerentanan ini meliputi tingginya intensitas curah hujan tahunan, pergeseran struktur tanah akibat gravitasi lereng, serta alih fungsi lahan di bagian atas tebing yang mengganggu tata air alami. Kerentanan ini diperparah oleh kondisi struktur bata kuno yang telah berusia ratusan tahun dan belum sepenuhnya didukung oleh sistem perkuatan lereng (slope reinforcement) serta sistem kesiapsiagaan bencana yang memadai. Mengingat artefak arkeologi bersifat rapuh dan tidak dapat direproduksi secara persis apabila hancur, ancaman longsor ini menuntut perhatian serius dari para pemangku kepentingan pelestarian cagar budaya.
Paradigma Baru: Konservasi Berbasis Mitigasi Lingkungan dan Komunitas
Temuan mengenai kerentanan geologis tersebut mengubah paradigma pelestarian situs purbakala secara mendasar. Upaya pelestarian Petirtaan Belahan tidak lagi cukup diselesaikan hanya dengan metode pemugaran fisik batu atau pembersihan dinding kolam semata. Perbaikan struktur bangunan akan menjadi sia-sia jika fondasi tanah tempat ia berdiri mengalami pergerakan atau longsor akibat ketidakstabilan lereng di sekitarnya.
Oleh karena itu, riset tahun 2026 mengusulkan strategi mitigasi terpadu yang mencakup:
-
Konservasi Tanah dan Air: Penataan vegetasi lereng, penghutanan kembali kawasan tangkapan air, dan pengendalian aliran limpasan permukaan (run-off).
-
Mitigasi Struktur Fisik: Pemasangan sistem penguatan tebing yang ramah lanskap cagar budaya dan pemantauan pergerakan tanah secara berkala.
-
Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Komunitas: Pelibatan aktif masyarakat lokal Desa Wonosunyo dalam program pendidikan sadar bencana, pemeliharaan harian, dan pembentukan tim tanggap darurat situs.
Pendekatan holistik ini menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya harus memadukan disiplin ilmu arkeologi, geologi, teknik sipil, ekologi lingkungan, serta kearifan lokal masyarakat.
Kesimpulan
Petirtaan Belahan di Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu mata rantai sejarah yang paling memesona dari lanskap budaya Gunung Penanggungan. Melalui kombinasi struktur bata kuna, kolam pemandian, pahatan arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi yang menyemburkan air, relief estetis, serta kompleksitas gerbang Gapura Lanang dan Wadon, situs ini merekam jejak peradaban agung yang memadukan keimanan, kekuasaan, dan tata ruang sakral. Hubungannya dengan Prasasti Cunggrang dan era pemerintahan Airlangga memberikan dimensi historis yang sangat kaya.
Di sisi lain, temuan riset mutakhir mengenai ancaman gerakan tanah mengingatkan kita bahwa warisan leluhur ini berdiri di atas ekosistem alam yang dinamis dan rentan. Menjaga kelestarian Petirtaan Belahan menuntut komitmen lintas sektor yang menyelaraskan antara prinsip konservasi arkeologi, mitigasi bencana geologis, dan partisipasi aktif masyarakat. Selama situs ini dirawat dengan kebijaksanaan ekologis dan akademis, Sumber Tetek akan terus mengalirkan air kehidupan sekaligus kisah-kisah peradaban masa lalu bagi generasi masa depan Nusantara.